Pikiran Rakyat: Bandung, 24 Maret 2006


Perlu Penggalangan Kampanye dan Usaha Antisipasi Krisis Air

Sumber Air Tinggal 10 Persen

AIR merupakan sumber kehidupan. Keberadaannya sangat urgen dan melekat dalam menunjang kelangsungan semua makhluk hidup. Tanpa air (tidak minum) manusia hanya bisa bertahan hidup dalam beberapa hari saja. Sedangkan tanpa makan manusia masih bisa bertahan hidup sampai beberapa minggu.

Dalam keseharian manusia membutuhkan air untuk keperluan minum, mandi, mencuci dan lain-lain. Dalam bidang kehidupan ekonomi modern, air juga merupakan hal utama untuk budidaya pertanian, industri, pembangkit tenaga listrik, dan transportasi. Dalam pandangan agama air menjadi kunci utama dalam hal beribadah (thoharoh). Lantas bagaimana situasi dan kondisi air saat ini, mengapa harus repot?

Air sebagai suatu sumber daya, seperti halnya bahan bakar, dari waktu ke waktu terus mengalami penyusutan dan pengurangan baik kualitas maupun kuantitasnya, ujar Koordinator Kelompok Kerja Komunikasi Air (K3A) Dine Andriani. Karena itu, kami merasa perlu dan peduli melakukan kampanye masalah air sehingga keberadaan air tidak membawa bencana.

Sejak pertengahan 2005 Kelompok Kerja Komunikasi Air (K3A) getol melakukan kampanye air dari berbagai aspeknya mulai masalah banjir, penyediaan air bersih, dan masalah konservasi sumber daya air (SDA). Bentuk kegiatannya antara lain berupa talk show, temu media, media visit, semiloka, media gathering, dan community campaign dengan melibatkan masyarakat secara langsung.

Tujuannya, menurut Dine, dari rangkaian kegiatan kampanye peduli air itu diharapkan dapat menginventarisasi berbagai masalah air dan antipasi penyelesaian masalah dengan melibatkan pihak-pihak terkait. Terutama adanya pemahaman, kesadaran, dan keterlibatan masyarakat, ujar Dine.  

Kondisi lingkungan

Menurut Dine, kondisi lingkungan hidup di Jawa Barat saat ini sudah sangat memprihatinkan sehingga memberi pengaruh besar terhadap kualitas dan kuantitas air. Air permukaan rusak tercemar baik oleh limbah domestik maupun limbah non-domestik. Sedangkan air tanah, selain tercemar, kondisinya semakin menurun akibat eksploitasi secara intensif dan tidak terkendali terutama di daerah-daerah industri. Kekhawatiran senada juga disampaikan Dr. Mubiar Purwasasmita, Ketua Dewan Pakar DPKLTS. Menurutnya, selain curah hujan menurun, temperatur semakin tinggi, juga kondisi air hujan semakin asam (pH 3,5)

Sungai di Kota Bandung berjumlah 46 buah dengan panjang 268 km dan 77 mata air saat ini berada dalam keadaan sekarat. Kota Bandung tengah menghadapi masalah kekeringan kota. Muka air tanah sudah sangat menurun, dalam sepuluh tahun terakhir ini muka air tanah dangkalnya telah menurun hingga 10 meter dan air tanah dalamnya mencapai 80 meter, akibatnya terjadi landsubsidence sedalam dua meter, ujar Mubyar dalam suatu kesempatan kegiatan K3A.

Kondisi ini, lanjut Mubyar, diperparah dengan kerusakan di Kawasan Bandung Utara (KBU) yang telah mencapai 70 persen. Kawasan ini merupakan kawasan lindung dan daerah tangkapan air hujan (water catchment area) bagi cekungan Bandung dengan potensi 0,25 x 1,2 miliar m3/tahun, merupakan 60 persen dari sumber pasokan air tanah Kota Bandung serta merupakan infrastruktur alam untuk memelihara kestabilan iklim mikro Kota Bandung.

Secara teoritis, apabila fungsi kawasan lindung di hulu sub DAS sungai-sungai kecil Kota Bandung dapat dipulihkan, sebenarnya Kota Bandung tidak perlu mengalami kekeringan dan dapat memenuhi kebutuhan air warganya sepanjang tahun. Namun, dengan kondisi kawasan lindung yang rusak, saat terjadi hujan, tidak ada air yang tersimpan atau meresap ke dalam tanah karena langsung melimpas.

Penelitian menunjukkan bahwa potensi air yang bisa dimanfaatkan di musim kemarau tinggal 10 persen saja atau 28.750.000 m3/tahun. Itu pun kualitasnya sangat jelek karena tercemar oleh limbah, padahal kebutuhannya sudah mencapai 182.500.000 m3/tahun. Jadi, sudah sangat defisit. Apalagi prediksi National Geographic, pada tahun 2015 Kota Bandung berpenduduk 5,3 juta jiwa dengan kebutuhan air bersihnya 386.900.000 m3/tahun, maka krisi air bersih menjadi ancaman yang tak terhindarkan.

Menurut H. Us Tiarsa, Ketua PWI Jabar yang terlibat menjadi pembicara pada semiloka K3A pekan silam, kekurangan air bagi warga Kota Bandung bukan hal yang mustahil. Karena pada zaman kolonial Belanda, Kota Bandung hanya diperuntukkan bagi 600 ribu penduduk dan kini jumlah sudah mencapai 3,5 juta.

Karena itu, munurut Mubiar, penataan kembali ekosistem harus dimulai dengan pemulihan infrastruktur alam berupa hutan, sungai, danau, pesisir, dan sejenisnya. Infrastruktur buatan hendaknya dibangun justru untuk menguatkan dan menjaga kesinambungan manfaat infrastruktur alam, bukan untuk menggantikannya, karena investasi dan biaya operasi infrastruktur alam adalah yang paling murah. Gunakan phyto-technology atau teknologi ramah lingkungan lainnya untuk maksud tersebut.

Secara khusus, Kota Bandung harus melakukan penataan ekosistemnya berdasarkan batas-batas alamnya sebagai bagian dari sebuah cekungan alami cekungan Bandung, yang juga merupakan hulu dari sebuah daerah aliran sungai yang sangat penting yaitu Sungai Citarum. Secara regional Cekungan Bandung harus memiliki kawasan lindung seluas 54 persen, termasuk di dalamnya adalah Kota Bandung, sehingga pengkajian luasan hutan kota di Kota Bandung menjadi sangat menentukan.

Potensi luas taman di Kota Bandung saat ini mencapai 115,25 ha, bila ditambah dengan potensi ruang terbuka hijau lainnya seperti jalur hijau, pemakaman, jalur tegangan tinggi, jalur kereta api, kawasan konservasi termasuk Punclut, pekarangan rumah, perkantoran dan industri seluruhnya bisa mencapai luas 8.336,48 ha. Ini berarti hampir separoh dari luas Kota Bandung yang mencapai 16.729 ha. Konsep ruang Kota Bandung pasca-reformasi mestinya merupakan sebuah kota hutan yang sangat ditentukan oleh jumlah dan jenis tegakkan pohonnya, dan bukan lagi kota taman sekedar untuk keindahan.(Cecep Sukmara).***

artikel-artikel lainnya:

 

 

Kelompok Kerja Komunikasi Air
Jl. Pasang No. 18 Bandung 40114 Jawa Barat
Telp/Fax. +60-22-7273440 Email k3a@bdg.centrin.net.id