AIR merupakan sumber kehidupan. Keberadaannya sangat urgen dan
melekat dalam menunjang kelangsungan semua makhluk hidup. Tanpa
air (tidak minum) manusia hanya bisa bertahan hidup dalam beberapa
hari saja. Sedangkan tanpa makan manusia masih bisa bertahan hidup
sampai beberapa minggu.
Dalam keseharian manusia membutuhkan air untuk keperluan minum,
mandi, mencuci dan lain-lain. Dalam bidang kehidupan ekonomi modern,
air juga merupakan hal utama untuk budidaya pertanian, industri,
pembangkit tenaga listrik, dan transportasi. Dalam pandangan agama
air menjadi kunci utama dalam hal beribadah (thoharoh).
Lantas bagaimana situasi dan kondisi air saat ini, mengapa harus
repot?
Air sebagai suatu sumber daya, seperti halnya bahan bakar, dari
waktu ke waktu terus mengalami penyusutan dan pengurangan baik
kualitas maupun kuantitasnya, ujar Koordinator Kelompok Kerja
Komunikasi Air (K3A) Dine Andriani. Karena itu, kami merasa perlu
dan peduli melakukan kampanye masalah air sehingga keberadaan
air tidak membawa bencana.
Sejak pertengahan 2005 Kelompok Kerja Komunikasi Air (K3A) getol
melakukan kampanye air dari berbagai aspeknya mulai masalah banjir,
penyediaan air bersih, dan masalah konservasi sumber daya air
(SDA). Bentuk kegiatannya antara lain berupa talk show,
temu media, media visit, semiloka, media gathering, dan
community campaign dengan melibatkan masyarakat secara
langsung.
Tujuannya, menurut Dine, dari rangkaian kegiatan kampanye peduli
air itu diharapkan dapat menginventarisasi berbagai masalah air
dan antipasi penyelesaian masalah dengan melibatkan pihak-pihak
terkait. Terutama adanya pemahaman, kesadaran, dan keterlibatan
masyarakat, ujar Dine.
Kondisi lingkungan
Menurut Dine, kondisi lingkungan hidup di Jawa Barat saat ini
sudah sangat memprihatinkan sehingga memberi pengaruh besar terhadap
kualitas dan kuantitas air. Air permukaan rusak tercemar baik
oleh limbah domestik maupun limbah non-domestik. Sedangkan air
tanah, selain tercemar, kondisinya semakin menurun akibat eksploitasi
secara intensif dan tidak terkendali terutama di daerah-daerah
industri. Kekhawatiran senada juga disampaikan Dr. Mubiar Purwasasmita,
Ketua Dewan Pakar DPKLTS. Menurutnya, selain curah hujan menurun,
temperatur semakin tinggi, juga kondisi air hujan semakin asam
(pH 3,5)
Sungai di Kota Bandung berjumlah 46 buah dengan panjang 268 km
dan 77 mata air saat ini berada dalam keadaan sekarat. Kota Bandung
tengah menghadapi masalah kekeringan kota. Muka air tanah sudah
sangat menurun, dalam sepuluh tahun terakhir ini muka air tanah
dangkalnya telah menurun hingga 10 meter dan air tanah dalamnya
mencapai 80 meter, akibatnya terjadi landsubsidence sedalam dua
meter, ujar Mubyar dalam suatu kesempatan kegiatan K3A.
Kondisi ini, lanjut Mubyar, diperparah dengan kerusakan di Kawasan
Bandung Utara (KBU) yang telah mencapai 70 persen. Kawasan ini
merupakan kawasan lindung dan daerah tangkapan air hujan (water
catchment area) bagi cekungan Bandung dengan potensi 0,25
x 1,2 miliar m3/tahun, merupakan 60 persen dari sumber
pasokan air tanah Kota Bandung serta merupakan infrastruktur alam
untuk memelihara kestabilan iklim mikro Kota Bandung.
Secara teoritis, apabila fungsi kawasan lindung di hulu sub DAS
sungai-sungai kecil Kota Bandung dapat dipulihkan, sebenarnya
Kota Bandung tidak perlu mengalami kekeringan dan dapat memenuhi
kebutuhan air warganya sepanjang tahun. Namun, dengan kondisi
kawasan lindung yang rusak, saat terjadi hujan, tidak ada air
yang tersimpan atau meresap ke dalam tanah karena langsung melimpas.
Penelitian menunjukkan bahwa potensi air yang bisa dimanfaatkan
di musim kemarau tinggal 10 persen saja atau 28.750.000 m3/tahun.
Itu pun kualitasnya sangat jelek karena tercemar oleh limbah,
padahal kebutuhannya sudah mencapai 182.500.000 m3/tahun.
Jadi, sudah sangat defisit. Apalagi prediksi National Geographic,
pada tahun 2015 Kota Bandung berpenduduk 5,3 juta jiwa dengan
kebutuhan air bersihnya 386.900.000 m3/tahun, maka
krisi air bersih menjadi ancaman yang tak terhindarkan.
Menurut H. Us Tiarsa, Ketua PWI Jabar yang terlibat menjadi pembicara
pada semiloka K3A pekan silam, kekurangan air bagi warga Kota
Bandung bukan hal yang mustahil. Karena pada zaman kolonial Belanda,
Kota Bandung hanya diperuntukkan bagi 600 ribu penduduk dan kini
jumlah sudah mencapai 3,5 juta.
Karena itu, munurut Mubiar, penataan kembali ekosistem harus
dimulai dengan pemulihan infrastruktur alam berupa hutan, sungai,
danau, pesisir, dan sejenisnya. Infrastruktur buatan hendaknya
dibangun justru untuk menguatkan dan menjaga kesinambungan manfaat
infrastruktur alam, bukan untuk menggantikannya, karena investasi
dan biaya operasi infrastruktur alam adalah yang paling murah.
Gunakan phyto-technology atau teknologi ramah lingkungan
lainnya untuk maksud tersebut.
Secara khusus, Kota Bandung harus melakukan penataan ekosistemnya
berdasarkan batas-batas alamnya sebagai bagian dari sebuah cekungan
alami cekungan Bandung, yang juga merupakan hulu dari sebuah daerah
aliran sungai yang sangat penting yaitu Sungai Citarum. Secara
regional Cekungan Bandung harus memiliki kawasan lindung seluas
54 persen, termasuk di dalamnya adalah Kota Bandung, sehingga
pengkajian luasan hutan kota di Kota Bandung menjadi sangat menentukan.
Potensi luas taman di Kota Bandung saat ini mencapai 115,25 ha,
bila ditambah dengan potensi ruang terbuka hijau lainnya seperti
jalur hijau, pemakaman, jalur tegangan tinggi, jalur kereta api,
kawasan konservasi termasuk Punclut, pekarangan rumah, perkantoran
dan industri seluruhnya bisa mencapai luas 8.336,48 ha. Ini berarti
hampir separoh dari luas Kota Bandung yang mencapai 16.729 ha.
Konsep ruang Kota Bandung pasca-reformasi mestinya merupakan sebuah
kota hutan yang sangat ditentukan oleh jumlah dan jenis tegakkan
pohonnya, dan bukan lagi kota taman sekedar untuk keindahan.(Cecep
Sukmara).***